Tanggapan Mengenai Irshad Manji

Irshad Manji memberikan keterangan kepada pers di Gedung Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (9/5). Dengan alasan keamanan, pihak Universitas Gadjah Mada akhirnya membatalkan diskusi buku karya Irshad Manji yang berjudul ''Allah, Liberty and Love'' setelah mendapat protes dari kelompok-kelompok yang menentang kedatangan Irshad Manji dan diskusi bukunya. TEMPO/Suryo Wibowo

Irshad Manji: Hanya Ada 1 Tuhan, La Ilaha Illallah  

TEMPO.CO, Jakarta - Irshad Manji tak kaget saat mendengar beberapa kabar buruk Kamis malam dua pekan lalu. Saat itu, Direktur Moral Courage Project, New York University, ini baru mendarat di Indonesia untuk mempromosikan buku terbarunya, Allah, Liberty, and Love.

Salah satu kabar buruk itu mengatakan sebuah jaringan toko buku besar di Indonesia membatalkan peredaran buku yang sedang dipromosikannya. Kabar buruk lainnya, diskusi di kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah keesokan harinya (Jumat, 4 Mei) dibatalkan dan dipindahkan ke Maarif Institute. “Saya tahu dari Twitter,” katanya ringan setelah diskusi Maarif Institute di Tebet.

Bahkan, sebelum terbang ke Indonesia untuk kedua kalinya, warga negara Kanada ini sudah membayangkan akan mendapat penolakan dari otoritas agama ataupun pemerintah. Empat tahun lalu, Irshad datang untuk mempromosikan buku Beriman tanpa Rasa Takut, terjemahan dari The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change. Buku ini mengundang banyak hujatan dari kalangan muslim militan. Bahkan teror dan ancaman pembunuhan.

Namun nyali perempuan keturunan India-Mesir yang lahir di Uganda ini tak surut. Buku berikutnya terbit. Dia kian populer, termasuk di Indonesia. Dalam daftar teman di akun Facebooknya, orang Indonesia menduduki tempat kedua terbesar. “Terakhir saya cek, hampir 35 persen.”


Namun kepopulerannya pula yang menyebabkan sejumlah kehebohan selama kunjungannya di Indonesia. Purwani Diyah Prabandari dari Tempo mewawancarai Irshad Manji, 44 tahun, di sela hiruk-pikuk kegiatannya. Wawancara berlangsung dua kali, Jumat dua pekan lalu dan Senin berikutnya.

Buku terbaru Anda mendapat banyak penolakan, padahal yang dulu tidak. Apakah Anda kaget?

Ketika saya ke sini pertama kali, banyak yang tertarik kepada buku saya. Tapi saat itu pemerintah atau otoritas agama tidak begitu tahu karya saya. Jadi, mereka tidak serius menanggapi. Namun kehebohan dalam kunjungan pertama itu membuat otoritas agama dan pemerintah merasa terancam oleh kehadiran kedua saya kali ini.

Kalau tahu akan ditentang, kenapa tetap datang?

Di Facebook saya posting sebuah grafis yang memperlihatkan meningkatnya penolakan atas kehadiran Irshad Manji di Indonesia. Kemudian saya bilang, "Saya terbang ke Jakarta hari ini, tolong doakan saya dan sabar." Sejumlah orang Indonesia memberikan komentar yang kebanyakan mendukung: lanjutkan, teruskan langkah, tetap berjuang, dan lain-lain.

Menurut Anda, dukungan saja cukup?

Orang tak cukup hanya memberi penghargaan kepada pelaku perubahan. Sangat mudah untuk mengatakan, "Apa yang bisa saya lakukan? Saya tak punya apa-apa." Kita tidak boleh seperti itu. Setiap pilihan yang kita buat setiap hari adalah gerakan untuk perubahan. Jadi, buku Allah, Liberty, and Love mengupas soal apa yang Anda semua bisa lakukan untuk perubahan.

Jadi, Anda telah siap dengan penolakan?

Mahatma Gandhi mengatakan, "Ketika kita mencoba melakukan perubahan, pertama-tama mereka akan mengabaikan kita. Kemudian mereka akan memperolok kita. Kemudian mereka memerangi kita. Akhirnya, kita menang." Jadi, untuk buku kedua ini, saya sudah membayangkan akan lebih banyak penolakan dibanding buku pertama.

Dengan memakai skenario Gandhi, Anda sekarang ini di tahap apa?

Di tahap perlawanan atau perang. Mereka tak lagi memperolok. Mereka membungkam. Tapi saya tak akan melakukan perlawanan dengan kekerasan. Malam ini saya akan muncul ke Komunitas Salihara. Mungkin saya akan diusir, tapi saya tetap akan datang ke diskusi. Saya tak akan lari. Demikian pula di Solo dan Yogyakarta.
Baca selengkapnya di MBM TEMPO edisi 14-20 Mei 2012
Irshad Manji Terharu Dilindungi
TEMPO.CO, Jakarta - Penulis feminis asal Kanada, Irshad Manji, merasa terharu karena masih ada orang-orang yang melindunginya di tempat diskusi bukunya, Allah, Liberty and Love. Untuk para pelindungnya itu, Irshad menyebut para pemberani yang rela berkorban demi nyawanya.

“Saya sangat terharu dengan keberanian mereka,” kata Irshad dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Kamis, 10 Mei 2012.

Pada Rabu, 9 Mei 2012 malam, massa Majelis Mujahidin merangsek masuk ke area pendopo LKiS (Lembaga Kajian Ilmu Sosial), Bantul, untuk membubarkan diskusi Irshad Manji, pengarang buku Allah, Liberty and Love". Namun Direktur Moral Courage Project, Universitas New York, ini tak beranjak dari tempat duduknya. Begitu puluhan orang, yang rata-rata menutupi mukanya dengan helm, itu mengusir seluruh peserta diskusi, sekitar tujuh orang panitia langsung berdiri mengitari Irshad Manji agar tak terlihat.

Massa yang ikut dalam penyerangan yang berlangsung singkat selama 15-an menit itu pun tak dapat menemukan keberadaan Irshad Manji yang sebenarnya masih ada di pendopo LKiS. Puluhan penyerang itu justru berinisiatif menendangi piring tempat jajanan, pot bunga, dan memecahkan candela kaca-kaca kantor LKiS. Mereka juga menyerang peserta yang sebagiannya wanita, dengan memukul dan menyuruh mereka pergi dari lokasi diskusi.

“Di saat para kriminal berteriak-teriak, ''Mana Manji? Mana Manji?'' orang-orang berjiwa pemberani itu menjadikan tubuh mereka sebagai perisai yang melindungi saya,” kata wanita berpotongan rambut cepak ini. Menurut dia, tindakan heroik itu memperlihatkan bahwa orang-orang Indonesia bisa bersatu demi martabat dan nilai-nilai kemanusiaan.

Irshad banyak mendengar bahwa polisi dan pemerintah Indonesia tunduk begitu saja kepada para preman itu. Tapi ia menyarankan masyarakat Indonesia tidak boleh ikut tunduk kepada mereka. “Semoga seluruh masyarakat Indonesia bangga serta dapat belajar kepada para pahlawan perdamaian mereka,” tulisnya.

Penyerangan terhadap diskusi buku yang menurut pengunjuk rasa mengajarkan percintaan sesama jenis itu telah terjadi di beberapa tempat di Pulau Jawa. Sebut saja diskusi di Salihara pada Jumat, 4 Mei 2012, atau diskusi yang terjadi Rabu, 9 Mei 2012 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Diskusi yang terjadi di kantor Aliansi Jurnalis Independen pada Sabtu, 5 Mei 2012, pun sempat didesak polisi intel berpakaian sipil untuk dibubarkan.
Melihat kejadian ini, Irshad merasa Indonesia berubah dari sisi toleransi agama. Saat ia datang empat tahun lalu, ia merasakan sebuah negara yang penuh dengan toleransi, keterbukaan, dan pluralisme. Oleh karena itu, ia menyebutkan dalam bukunya, Indonesia sebagai negara yang patut ditiru negara lain. “Namun sekarang banyak hal yang berubah,” katanya.


Tanggapan dan Solusi
Menurut saya hasil pemikiran dari Irsad manji itu sudah sangat jauh menyimpang dari nilai-nilai agama Islam. Walaupun dia mengaku sebagai seorang muslimah, namun pemikiran tentang Islam yang ia kemukakan sudah sangat melenceng dari agama Islam.
Irsad Manji adalah seorang penganut paham liberalisme yang bebas dan ia juga seorang lesbian. Banyak pemikirannya yang sangat melenceng dari ajaran Islam seperti yang di tulis di bukunya yaitu Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini bahwa Nabi Muhammad pernah salah dalam menyebarkan ayat Al-quran yang kemudian dicoret-coret karena adanya kesalahan yang diakibatkan oleh tipu daya setan. Dan kisah ini dikenal dengan “Ayat-ayat setan”. Padahal menurut para ulama, kisah tersebut tidak bisa diterima kebenarannya. Hasil pemikiran melenceng darinya yang lain adalah ia ingin adanya sikap toleran dan kebebasan bagi kaum transgender. Padahal pemikirannya tersebut sudah sangat melecehkan agama Islam dengan adanya isu persamaan gender tersebut.
Dalam mengungkapkan hasil pemikirannya, Irsad Manji tidak segan-segan menggunakan dalil-dalil palsu untuk menjatuhkan dalil-dalil Al-quran yang asli. Kemudian dengan paham yang dianut oleh Irsad Manji yaitu paham Liberalis dan pergaulan bebas, sudah dapat dipastikan bahwa hasil pemikiran yang dia kemukakan adalah pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan tidak  bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Dan saya setuju dengan adanya penolakan serta pembubaran secara paksa acara diskusi yang dihadiri oleh Irsad Manji, karena menurut saya akhlak yang dimiliki oleh irsad manji sudah sangat menyesatkan bagi umat Islam Indonesia. Dengan paham yang dianutnya yaitu paham liberalisme, membuat akhlak yang dimilikinya semakin bebas tanpa adanya batas yang mengatur. Padahal dalam Islam semua tindakan atau perbuatan yang mau kita lakukan telah ada aturan-aturan yang telah di tetapkan di dalam Al-Quran. Jika Irsad Manji memang seorang muslimah yang sejati, tidak semestinya dia menjadi seorang lesbian.
Menurut saya, solusi yang bisa kita lakukan sekarang ketika adanya orang yang ingin merusak akhlak dan moral agama kita yaitu agama Islam adalah dengan menyaring semua informasi yang kita dapat. Kita tidak boleh langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh orang yang belum tentu kebenarannya. Apalagi bila hasil pemikirannya yang bisa membuat akhlak kita semakin hancur dan jauh dari agama.
Semoga dengan adanya kejadian penolakan Irsad Manji di Indonesia membuat akhlak  umat Islam di Indonesia semakin baik kedepannya. Dan tidak ada lagi munculnya orang seperti Irsad Manji Indonesia yang membuat Umat Islam resah.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tolong berikan komentar yang baik dan sopan serta jangan SPAM!